Wednesday, December 31, 2014

Tengo

Nama lelaki itu adalah Tengo. Ia bukan laki-laki yang tidak biasa. Ia tidak dihormati karena pekerjaannya, tidak juga karena namanya. Profesinya hanya sebagai seorang guru les, mengajar matematika kepada anak-anak sekolahan, dan juga sebagai ghost writer bagi seorang penulis pemula dengan nama samaran Fuka-Eri. Ayahnya cuma seorang tukang tagih NHK  - menarik uang atas kepemilikan televisi. Bahkan sang ayah jauh-jauh sudah mengutuki anaknya, “kau bukan apa-apa, dan tidak akan jadi apa-apa.”
Tapi, di balik semua kehidupan nan banal tersebut, ia masih memendam sebuah kesumat. Kisahnya dimulai kira-kira dua puluh tahun yang lalu, ketika ia bertemu dengan seorang gadis di sekolahnya. Gadis itu tidak cantik, tidak berdandan dengan pantas, mengenakan sepatu yang kebesaran, dan selalu berdoa keras-keras sebelum makan siang. Tengo adalah satu-satunya orang yang tertarik pada gadis itu. Pada suatu hari di musim semi, keduanya bertemu, lalu sang gadis menggenggam tangan kanan Tengo. Pertemuan itulah yang kemudian membekas selama-lamanya baik di hati Tengo dan gadis itu, yang belakangan diketahui bernama Aomame. Tengo memendam hasrat besar untuk bisa bertemu dengannya kembali.
Alkisah gadis itu sudah dekat sekali dengan dia. Melalui perantaraan seorang kawan, Aomame menyuruh agar Tengo datang sendirian menemuinya pada pukul delapan malam. Lantas, bergejolaklah hati kecil seorang Tengo. Dua puluh tahun rindu dendam itu kini akan segera lunas hanya dalam hitungan jam. Namun, nalarnya kemudian, “mungkin lebih baik jika kami tidak bertemu lagi....[...] hanya dengan demikian kami bisa saling menyimpan harapan di hati kami masing-masing.” Pada akhirnya toh Tengo bertemu kembali dengan Aomame, dan seperti sebuah dongeng, keduanya hidup bahagia selamanya.
Demikian kisah Haruki Murakami dalam novel 1Q84, di mana ia mengisahkan sebuah dunia “di mana aturan dan logika tidak berlaku.” Murakami berhasil membawa sebuah kisah klise, tentang sepasang pria dan wanita yang akhirnya bersatu setelah menempuh banyak cobaan panjang, ke dimensi baru. Sungguh sebuah ironi ketika Tengo, tinggal selangkah lagi dengan Aomame, justru berharap supaya ia tak usah bertemu lagi dengan pujaan hatinya itu. Memang tak terjadi, tetapi kalimat ini menjadi sebuah antiklimaks dari seluruh cerita: rindu dendam yang dipupuk dalam waktu yang lama memang menghasilkan suatu energi besar, lebih dahsyat dari pertemuan itu sendiri.
Kerinduan lahir dari jarak dan waktu. Ironis, kerinduan kemudian menghadirkan sebuah kenikmatan sublim yang hilang ketika jarak dan waktu itu menyempit. Teori ini menemukan tempatnya pada surat. Surat-surat menghadirkan sebuah ruang personal yang di dalamnya kerinduan itu bermanifestasi, di mana setiap sanubari menginginkan kehadiran, tetapi di saat yang sama justru menolak kehadiran itu. Tiap kata menguapkan sebuah kedekatan yang asing, membuat pembacanya makin menenggelamkan diri dalam ilusi tersebut. Sang pembaca tidak bertemu dengan buah hatinya  dalam surat itu; hanya sebuah fragmen kecil, tetapi dijejali dengan segenap emosi yang (seolah-olah) menghadirkan si dia.
Kini, dunia seolah telah beranjak pergi dari ruang rindu tersebut. Teknologi, entah dalam bentuk jejaring pertemanan, aplikasi chatting, bahkan surat elektronik, telah sukses membunuh jarak dalam kehidupan manusia. Si ‘dia’ yang dahulu terasa begitu jauh kini terasa begitu dekat meski fisiknya tak terasa.
Tapi betulkah jarak bisa betul-betul dilenyapkan? Jarak antara dia yang merindukan dan dia yang dirindukan memang bisa diatasi. Lama-kelamaan, kita lebih suka mencoba menggapai pihak yang jauh itu, dengan mengorbankan mereka yang dekat. Teknologi, selain membunuh jarak, justru menciptakan jarak baru. Kebutuhan yang besar untuk menyingkat kerinduan kini malah menyekat manusia yang satu dengan satu lain. Dahulu dikatakan bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya. Kini, baiklah pepatah itu dimodifikasi, bahwa manusia telah menjadi alien bagi sesamanya, semakin tak peduli, karena mengejar ‘yang jauh’ itu.
Di samping itu ada pula yang mati. Rasa rindu yang termanifestasi dalam surat memproyeksikan ide-ide, pemikiran, bahkan perasaan terdalam seorang manusia. Tak perlu lagi dikisahkan tentang surat-surat Kartini yang belakangan abadi dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Kesusasteraan Prancis bahkan mengenal genre sastra bertajuk roman épistolaire untuk mendeskripsikan sebuah novel yang isinya adalah surat-menyurat. Bahkan, muncul pula tokoh Cyrano de Bergerac yang, alkisah, diupah khusus untuk menulis surat-surat cinta orang lain, kurang lebih seperti Joaquin Phoenix dalam film Her. Kini, teknologi penawar rindu tersebut melenyapkan kebutuhan manusia untuk berpanjang lebar seperti ada pada surat. Kertas dan pena terganti oleh papan tulis virtual dan papan ketik. Demi efisiensi, tak ada lagi penumpahan rasa, tak lagi dibutuhkan keelokan berbahasa. Sebaliknya, insan kian berlomba menyingkat bahasa. Surat menjadi suatu bayangan masa lalu. Perlahan, ia lenyap, bersama dengan keagungan berbahasanya.
Hanya saja, janganlah keburu menyalahkan pelenyapan jarak. Keterasingan, harus diakui, menghidupkan hasrat. Makin jauh kita dari ‘yang jauh’ itu, hasrat untuk bertemu itu makin berkobar. Sayang, ia mati ketika si dia akhirnya berdiri di muka. Kita sampai pada sebuah dilema: menanggung perihnya rindu atau merasakan kebosanan ketika rindu itu tuntas. Bisa saja manusia memang memiliki kebutuhan akan kerinduan, sebagai benih semangat untuk menambatkan diri kepada mereka yang terkasih. Tapi, apa selanjutnya ketika rindu itu akhirnya terlampiaskan? Atau, ada penjelasan lain untuk teori itu. Lacan, psikolog yang menerapkan teori strukturalisme dalam teori psikoanalisis Freud, menjelaskan bahwa manusia tak pernah ingin melampiaskan nafsu. Manusia cenderung berputar-putar saja di sekeliling pemuas nafsu mereka, karena hal itulah yang memberi mereka hasrat lebih lagi.
Mungkin saja Tengo benar. Mungkin saja manusia membutuhkan jarak. Semua dikarenakan oleh dualitas dalam tiap ruh manusia: kebutuhan untuk bersosialiasi, sekaligus juga kebutuhan untuk merasa sendiri. Karena tiap manusia ada pertama-tama untuk dirinya sendiri, sebelum ada untuk orang lain.


No comments:

Post a Comment