Nama lelaki itu adalah Tengo. Ia bukan laki-laki yang tidak biasa. Ia tidak
dihormati karena pekerjaannya, tidak juga karena namanya. Profesinya hanya
sebagai seorang guru les, mengajar matematika kepada anak-anak sekolahan, dan juga
sebagai ghost writer bagi seorang
penulis pemula dengan nama samaran Fuka-Eri. Ayahnya cuma seorang tukang tagih
NHK - menarik uang atas kepemilikan
televisi. Bahkan sang ayah jauh-jauh sudah mengutuki anaknya, “kau bukan
apa-apa, dan tidak akan jadi apa-apa.”
Tapi, di balik semua kehidupan nan banal tersebut, ia masih memendam sebuah
kesumat. Kisahnya dimulai kira-kira dua puluh tahun yang lalu, ketika ia
bertemu dengan seorang gadis di sekolahnya. Gadis itu tidak cantik, tidak
berdandan dengan pantas, mengenakan sepatu yang kebesaran, dan selalu berdoa
keras-keras sebelum makan siang. Tengo adalah satu-satunya orang yang tertarik
pada gadis itu. Pada suatu hari di musim semi, keduanya bertemu, lalu sang
gadis menggenggam tangan kanan Tengo. Pertemuan itulah yang kemudian membekas
selama-lamanya baik di hati Tengo dan gadis itu, yang belakangan diketahui
bernama Aomame. Tengo memendam hasrat besar untuk bisa bertemu dengannya
kembali.
Alkisah gadis itu sudah dekat sekali dengan dia. Melalui perantaraan
seorang kawan, Aomame menyuruh agar Tengo datang sendirian menemuinya pada
pukul delapan malam. Lantas, bergejolaklah hati kecil seorang Tengo. Dua puluh
tahun rindu dendam itu kini akan segera lunas hanya dalam hitungan jam. Namun,
nalarnya kemudian, “mungkin lebih baik jika kami tidak bertemu lagi....[...] hanya
dengan demikian kami bisa saling menyimpan harapan di hati kami masing-masing.”
Pada akhirnya toh Tengo bertemu kembali dengan Aomame, dan seperti sebuah
dongeng, keduanya hidup bahagia selamanya.
Demikian kisah Haruki Murakami dalam novel 1Q84, di mana ia mengisahkan sebuah dunia “di mana aturan dan
logika tidak berlaku.” Murakami berhasil membawa sebuah kisah klise, tentang
sepasang pria dan wanita yang akhirnya bersatu setelah menempuh banyak cobaan
panjang, ke dimensi baru. Sungguh sebuah ironi ketika Tengo, tinggal selangkah
lagi dengan Aomame, justru berharap supaya ia tak usah bertemu lagi dengan
pujaan hatinya itu. Memang tak terjadi, tetapi kalimat ini menjadi sebuah
antiklimaks dari seluruh cerita: rindu dendam yang dipupuk dalam waktu yang lama
memang menghasilkan suatu energi besar, lebih dahsyat dari pertemuan itu
sendiri.
Kerinduan lahir dari jarak dan waktu. Ironis, kerinduan kemudian
menghadirkan sebuah kenikmatan sublim yang hilang ketika jarak dan waktu itu
menyempit. Teori ini menemukan tempatnya pada surat. Surat-surat menghadirkan
sebuah ruang personal yang di dalamnya kerinduan itu bermanifestasi, di mana
setiap sanubari menginginkan kehadiran, tetapi di saat yang sama justru menolak
kehadiran itu. Tiap kata menguapkan sebuah kedekatan yang asing, membuat pembacanya
makin menenggelamkan diri dalam ilusi tersebut. Sang pembaca tidak bertemu
dengan buah hatinya dalam surat itu;
hanya sebuah fragmen kecil, tetapi dijejali dengan segenap emosi yang
(seolah-olah) menghadirkan si dia.
Kini, dunia seolah telah beranjak pergi dari ruang rindu tersebut.
Teknologi, entah dalam bentuk jejaring pertemanan, aplikasi chatting, bahkan surat elektronik, telah
sukses membunuh jarak dalam kehidupan manusia. Si ‘dia’ yang dahulu terasa
begitu jauh kini terasa begitu dekat meski fisiknya tak terasa.
Tapi betulkah jarak bisa betul-betul dilenyapkan? Jarak antara dia yang
merindukan dan dia yang dirindukan memang bisa diatasi. Lama-kelamaan, kita
lebih suka mencoba menggapai pihak yang jauh itu, dengan mengorbankan mereka
yang dekat. Teknologi, selain membunuh jarak, justru menciptakan jarak baru.
Kebutuhan yang besar untuk menyingkat kerinduan kini malah menyekat manusia
yang satu dengan satu lain. Dahulu dikatakan bahwa manusia adalah serigala bagi
sesamanya. Kini, baiklah pepatah itu dimodifikasi, bahwa manusia telah menjadi
alien bagi sesamanya, semakin tak peduli, karena mengejar ‘yang jauh’ itu.
Di samping itu ada pula yang mati. Rasa rindu yang termanifestasi dalam
surat memproyeksikan ide-ide, pemikiran, bahkan perasaan terdalam seorang
manusia. Tak perlu lagi dikisahkan tentang surat-surat Kartini yang belakangan
abadi dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.
Kesusasteraan Prancis bahkan mengenal genre
sastra bertajuk roman épistolaire
untuk mendeskripsikan sebuah novel yang isinya adalah surat-menyurat. Bahkan,
muncul pula tokoh Cyrano de Bergerac yang, alkisah, diupah khusus untuk menulis
surat-surat cinta orang lain, kurang lebih seperti Joaquin Phoenix dalam film Her. Kini, teknologi penawar rindu
tersebut melenyapkan kebutuhan manusia untuk berpanjang lebar seperti ada pada
surat. Kertas dan pena terganti oleh papan tulis virtual dan papan ketik. Demi
efisiensi, tak ada lagi penumpahan rasa, tak lagi dibutuhkan keelokan
berbahasa. Sebaliknya, insan kian berlomba menyingkat bahasa. Surat menjadi
suatu bayangan masa lalu. Perlahan, ia lenyap, bersama dengan keagungan
berbahasanya.
Hanya saja, janganlah keburu menyalahkan pelenyapan jarak. Keterasingan,
harus diakui, menghidupkan hasrat. Makin jauh kita dari ‘yang jauh’ itu, hasrat
untuk bertemu itu makin berkobar. Sayang, ia mati ketika si dia akhirnya
berdiri di muka. Kita sampai pada sebuah dilema: menanggung perihnya rindu atau
merasakan kebosanan ketika rindu itu tuntas. Bisa saja manusia memang memiliki
kebutuhan akan kerinduan, sebagai benih semangat untuk menambatkan diri kepada
mereka yang terkasih. Tapi, apa selanjutnya ketika rindu itu akhirnya
terlampiaskan? Atau, ada penjelasan lain untuk teori itu. Lacan, psikolog yang
menerapkan teori strukturalisme dalam teori psikoanalisis Freud, menjelaskan
bahwa manusia tak pernah ingin melampiaskan nafsu. Manusia cenderung
berputar-putar saja di sekeliling pemuas nafsu mereka, karena hal itulah yang
memberi mereka hasrat lebih lagi.
Mungkin saja Tengo benar. Mungkin saja manusia membutuhkan jarak. Semua
dikarenakan oleh dualitas dalam tiap ruh manusia: kebutuhan untuk
bersosialiasi, sekaligus juga kebutuhan untuk merasa sendiri. Karena tiap
manusia ada pertama-tama untuk dirinya sendiri, sebelum ada untuk orang lain.
No comments:
Post a Comment