Gadis
itu tahu bahwa umurnya tinggal hitungan waktu. Mungkin bulan, minggu, hari,
jam, menit, detik, siapa tahu. Sudah niscaya bahwa satu menunggunya di depan:
kematian. Pun di rumah ia tidak bahagia. Terus menerus ibunya mendikte dirinya.
Ia tertekan, baik lahir maupun batin. Itulah yang mendorongnya untuk berdiri di
ujung loteng gedung kampusnya, menyambut kematian dengan caranya sendiri.
Kalaupun dia terus hidup, pikirnya, toh tidak ada apa-apa selain penderitaan.
Namun, seseorang keburu menarik tangannya. Itulah yang akhirnya mengubah
pendirian si gadis, sehingga ia bersedia untuk bergulat dengan nasib, sampai ia
betul-betul meninggal beberapa bulan kemudian – secara damai.
Kisah
tersebut bersumber dari hidup Minegishi Mioka, seorang mahasiswi Jepang yang
divonis mengidap penyakit brain
degeneration , alias penurunan fungsi otak. Ia adalah pembunuh yang begitu
mengerikan, bukan karena mematikan korbannya dengan banyak rasa sakit, tetapi
karena ia merampas hidup penderitanya secara perlahan. Dimulai dengan pingsan
di tengah jalan. Lalu, fungsi tubuh yang terdegradasi secara pelan tapi pasti-
seperti lumpuhnya kaki dan tangan-, atau sesuai bahasa Mioka, “tubuhku bukan
milikku lagi.” Kemudian, fungsi-fungsi kognitif menghilang seperti teman yang
tidak setia. Mioka tak sanggup lagi mengingat-ingat apapun dalam hidupnya.
Arah, tempat-tempat, cara menulis kanji,
buku-buku yang ia beli, dan, yang paling menyakitkan, identitas. Ia mulai lupa
dengan Taichi, pacarnya, orang yang menyelamatkannya itu. Semua tersimpul dalam
sebuah kematian yang pelan namun tenang.
Tapi
satu hal yang tidak bisa dirampas oleh penyakit jahanam tersebut: semangat
hidupnya. Bahkan dengan segala kesusahan yang begitu membelenggu, ia tetap
pergi ke kampus dengan senyum tersimpul. Mioka bahkan berani membuka hatinya
untuk Taichi setelah ditutupnya bertahun-tahun. Kalau perlu, ia bahkan berniat
minggat kalau orang tuanya tidak mendukung hubungan itu. Kawan-kawan Taichi
menjadi kawan-kawannya pula. Maut dihadapinya dengan hidup sebebas-bebasnya.
Bahkan ketika dunianya menciut, tinggal sebesar tempat tidur rumah sakit. Ia
masih sempat merekam kata-katanya dalam iPod
sebagai warisan terakhirnya untuk Taichi. Dalam bagian pamungkas dari novel
yang ditulis untuk mengenang hidupnya, dikatakan bahwa “keberadaannya
mengubahkan semua hidup di sekitarnya, tanpa kecuali.”
Semua
ini mendaraskan bahwa semangat adalah suatu hal yang begitu penting. Semangat
laksana bahan bakar bagi jiwa dan nalar sama seperti makanan menguatkan tubuh
jasmani, atau bensin bagi segenap kendaraan bermotor. Memang, semangat bukan
sesuatu yang abadi. Perlawanan Diponegoro di Jawa pada kurun 1825-1830
dicirikan dengan kuatnya harapan akan ratu
adil. Toh semua itu tak ada artinya berkat bulus Belanda. Aceh menolak
keras semua dominasi asing akan tanah dan lautnya. Mereka sukses mengusik
Portugis di Malaka dan mengukuhkan dominasi mereka akan Sumatra selama empat
abad, sebelum akhirnya takluk juga di tangan kompeni pada tahun 1904. Hanya
saja, semangat, apapun sumbernya, membakar gairah hidup, mengubah tubuh-tubuh
tak berpengharapan menjadi perkasa ibarat Hercules dengan dua belas tugas
beratnya. Ia juga yang memotori para pelaku seni untuk menghidupkan kanvas
ataupun tembok-tembok dengan hasil yang abadi hingga kini. Semangat pulalah
yang menggerakan para mahasiswa pada paruh kedua abad XX untuk turun ke jalan,
meskipun itu berarti menyabung nyawa. Memang betul, akal dan inspirasi memegang
jabatan penting, namun tanpa semangat, mereka akan tergeletak begitu saja
seperti perkakas-perkakas yang berdebu di dalam gudang.
Sebuah
kutipan internet beramsal, there is a
difference between living and existing. Existing
dimaknai sebagai ‘mengada’ saja, tanpa harus ‘berbuat’ apalagi ‘menjadi.’ Existing
adalah tingkatan dengan nilai rendah dalam hidup karena untuk melakukan itu
kita tak perlu memeras otak ataupun keringat; nilainya tidak lebih dari
kerumunan orang di persimpangan jalan yang menghilang seiring perputaran jarum
jam. Dengan bahasa yang lebih keras, existing
tak ubahnya seperti zombie yang tak
perlu tingkat intelejensia tinggi untuk hidup. Living adalah existing
ditambahi dengan ‘berbuat’ dan ‘menjadi’, mengangkat harkat hidup bukan hanya
untuk hadir di panggung dunia, tetapi bagaimana supaya panggung itu dapat
dipercantik. Ada proses, ada kerja yang hadir di sana yang barang tentu
membutuhkan bahan bakar.
Kesimpulannya,
hidup bukanlah sebuah kerja ringan bagi mereka yang mau memaknainya. Untuk hal
ini, mereka dengan kehidupan lebih susah pasti akan paham adagium “hidup adalah
perjuangan.” Untuk mereka yang tanpa lelah menyiangi lahan, menanam benih,
mencangkul tanah, dan memanen. Untuk mereka yang berurusan dengan peluru tajam
dan bahaya hampir setiap hari. Untuk mereka yang mesti bergulat dengan
fatalitas fisik baik karena kecelakaan maupun penyakit. Sartre dan Camus paham
betul akan hal ini. Eksistensialisme (yang diatributkan kepada mereka)
menyiratkan bahwa manusia harus bisa memperlakukan daging dan hayat mereka
macam beban di atas punggung seorang kuli. Setiap pagi tak lain dan tak bukan
adalah sebuah kesempatan untuk berjudi dengan keberuntungan dan kesialan. Dan semua itu ditanggung secara pribadi.Tak boleh ada Tuhan, ataupun
pelarian, karena dengan begitu manusia kehilangan alasan untuk meng-‘ada’. Perbandingan
Camus bahkan jauh lebih brutal dengan mengibaratkan hidup macam hukuman
Sisiphus, yang selama-lamanya mesti mendorong sebuah batu besar ke puncak
gunung, hanya untuk melihatnya terguling kembali ke bawah. Lanjut Camus,
layaknya Sisiphus dengan batu tadi, manusia harus hidup. Masa bodoh apakah ia
mengerti buat apa dia hidup. Ketidakmengertian akan hidup harus dilawan dengan
cara menjalani hidup sebaik-baiknya.
Tapi
eksistensialisme seolah memberi harga mati bahwa hidup hanyalah sebuah potret
buram. Anne Frank, gadis Yahudi Belanda itu, mencatat dalam buku hariannya
sebagai berikut: “I don’t think of all
the misery, but the beauty that still remains...”Ia hidup ketika kaumnya
dikejar-kejar dan diperlakukan bak binatang. Frank sekeluarga bahkan mesti
hidup di loteng, memakan makanan yang sama berhari-hari, bahkan tak diizinkan
menyiram toilet. Justru di masa-masa yang sungguh brutal itulah Frank berhasil
meyakinkan dirinya bahwa hidup itu indah. Pada titik ini Anne Frank dan Mioka
bertemu, oleh karena pemahaman mereka yang lentur akan hidup dan perjuangan.
Keduanya tentu bisa memberi sebuah testimoni melawan dua filsuf agung Prancis
tersebut, bahwa seburuk-buruknya hidup, atau dalam keadaan bahkan keindahan
sekalipun nyaris mustahil mendapat apresiasi, selalu ada alasan untuk tersenyum
dan berbahagia. Bahwa hidup tak melulu soal menanggung beban mahadahsyat di
atas punggung, tetapi juga bunga-bunga indah yang tumbuh di tepi jalan.
Sebagai
penutup, izinkan saya untuk melampirkan kutipan dari film La Vita รจ Bella ketika Guido, seorang Yahudi, berniat menghibur
anaknya. Kala itu keduanya dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi: “The game starts now. You have to score one
thousand points. If you do that, you take home a tank with a big gun. Each day
we will announce the scores from that loudspeaker. The one who has the fewest
points will have to wear a sign that says "Jackass" on his back.
There are three ways to lose points. One, if you cry. Two, if you ask to see
your mother. Three, if you're hungry and ask for a snack. Forget it!”
No comments:
Post a Comment