Thursday, December 25, 2014

Mioka

Gadis itu tahu bahwa umurnya tinggal hitungan waktu. Mungkin bulan, minggu, hari, jam, menit, detik, siapa tahu. Sudah niscaya bahwa satu menunggunya di depan: kematian. Pun di rumah ia tidak bahagia. Terus menerus ibunya mendikte dirinya. Ia tertekan, baik lahir maupun batin. Itulah yang mendorongnya untuk berdiri di ujung loteng gedung kampusnya, menyambut kematian dengan caranya sendiri. Kalaupun dia terus hidup, pikirnya, toh tidak ada apa-apa selain penderitaan. Namun, seseorang keburu menarik tangannya. Itulah yang akhirnya mengubah pendirian si gadis, sehingga ia bersedia untuk bergulat dengan nasib, sampai ia betul-betul meninggal beberapa bulan kemudian – secara damai.
Kisah tersebut bersumber dari hidup Minegishi Mioka, seorang mahasiswi Jepang yang divonis mengidap penyakit brain degeneration , alias penurunan fungsi otak. Ia adalah pembunuh yang begitu mengerikan, bukan karena mematikan korbannya dengan banyak rasa sakit, tetapi karena ia merampas hidup penderitanya secara perlahan. Dimulai dengan pingsan di tengah jalan. Lalu, fungsi tubuh yang terdegradasi secara pelan tapi pasti- seperti lumpuhnya kaki dan tangan-, atau sesuai bahasa Mioka, “tubuhku bukan milikku lagi.” Kemudian, fungsi-fungsi kognitif menghilang seperti teman yang tidak setia. Mioka tak sanggup lagi mengingat-ingat apapun dalam hidupnya. Arah, tempat-tempat, cara menulis kanji, buku-buku yang ia beli, dan, yang paling menyakitkan, identitas. Ia mulai lupa dengan Taichi, pacarnya, orang yang menyelamatkannya itu. Semua tersimpul dalam sebuah kematian yang pelan namun tenang.
Tapi satu hal yang tidak bisa dirampas oleh penyakit jahanam tersebut: semangat hidupnya. Bahkan dengan segala kesusahan yang begitu membelenggu, ia tetap pergi ke kampus dengan senyum tersimpul. Mioka bahkan berani membuka hatinya untuk Taichi setelah ditutupnya bertahun-tahun. Kalau perlu, ia bahkan berniat minggat kalau orang tuanya tidak mendukung hubungan itu. Kawan-kawan Taichi menjadi kawan-kawannya pula. Maut dihadapinya dengan hidup sebebas-bebasnya. Bahkan ketika dunianya menciut, tinggal sebesar tempat tidur rumah sakit. Ia masih sempat merekam kata-katanya dalam iPod sebagai warisan terakhirnya untuk Taichi. Dalam bagian pamungkas dari novel yang ditulis untuk mengenang hidupnya, dikatakan bahwa “keberadaannya mengubahkan semua hidup di sekitarnya, tanpa kecuali.”
Semua ini mendaraskan bahwa semangat adalah suatu hal yang begitu penting. Semangat laksana bahan bakar bagi jiwa dan nalar sama seperti makanan menguatkan tubuh jasmani, atau bensin bagi segenap kendaraan bermotor. Memang, semangat bukan sesuatu yang abadi. Perlawanan Diponegoro di Jawa pada kurun 1825-1830 dicirikan dengan kuatnya harapan akan ratu adil. Toh semua itu tak ada artinya berkat bulus Belanda. Aceh menolak keras semua dominasi asing akan tanah dan lautnya. Mereka sukses mengusik Portugis di Malaka dan mengukuhkan dominasi mereka akan Sumatra selama empat abad, sebelum akhirnya takluk juga di tangan kompeni pada tahun 1904. Hanya saja, semangat, apapun sumbernya, membakar gairah hidup, mengubah tubuh-tubuh tak berpengharapan menjadi perkasa ibarat Hercules dengan dua belas tugas beratnya. Ia juga yang memotori para pelaku seni untuk menghidupkan kanvas ataupun tembok-tembok dengan hasil yang abadi hingga kini. Semangat pulalah yang menggerakan para mahasiswa pada paruh kedua abad XX untuk turun ke jalan, meskipun itu berarti menyabung nyawa. Memang betul, akal dan inspirasi memegang jabatan penting, namun tanpa semangat, mereka akan tergeletak begitu saja seperti perkakas-perkakas yang berdebu di dalam gudang.
Sebuah kutipan internet beramsal, there is a difference between living and existing. Existing dimaknai sebagai ‘mengada’ saja, tanpa harus ‘berbuat’ apalagi ‘menjadi.’  Existing adalah tingkatan dengan nilai rendah dalam hidup karena untuk melakukan itu kita tak perlu memeras otak ataupun keringat; nilainya tidak lebih dari kerumunan orang di persimpangan jalan yang menghilang seiring perputaran jarum jam. Dengan bahasa yang lebih keras, existing tak ubahnya seperti zombie yang tak perlu tingkat intelejensia tinggi untuk hidup. Living adalah existing ditambahi dengan ‘berbuat’ dan ‘menjadi’, mengangkat harkat hidup bukan hanya untuk hadir di panggung dunia, tetapi bagaimana supaya panggung itu dapat dipercantik. Ada proses, ada kerja yang hadir di sana yang barang tentu membutuhkan bahan bakar.
Kesimpulannya, hidup bukanlah sebuah kerja ringan bagi mereka yang mau memaknainya. Untuk hal ini, mereka dengan kehidupan lebih susah pasti akan paham adagium “hidup adalah perjuangan.” Untuk mereka yang tanpa lelah menyiangi lahan, menanam benih, mencangkul tanah, dan memanen. Untuk mereka yang berurusan dengan peluru tajam dan bahaya hampir setiap hari. Untuk mereka yang mesti bergulat dengan fatalitas fisik baik karena kecelakaan maupun penyakit. Sartre dan Camus paham betul akan hal ini. Eksistensialisme (yang diatributkan kepada mereka) menyiratkan bahwa manusia harus bisa memperlakukan daging dan hayat mereka macam beban di atas punggung seorang kuli. Setiap pagi tak lain dan tak bukan adalah sebuah kesempatan untuk berjudi dengan keberuntungan dan kesialan.  Dan semua itu ditanggung secara pribadi.Tak boleh ada Tuhan, ataupun pelarian, karena dengan begitu manusia kehilangan alasan untuk meng-‘ada’. Perbandingan Camus bahkan jauh lebih brutal dengan mengibaratkan hidup macam hukuman Sisiphus, yang selama-lamanya mesti mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya terguling kembali ke bawah. Lanjut Camus, layaknya Sisiphus dengan batu tadi, manusia harus hidup. Masa bodoh apakah ia mengerti buat apa dia hidup. Ketidakmengertian akan hidup harus dilawan dengan cara menjalani hidup sebaik-baiknya.
Tapi eksistensialisme seolah memberi harga mati bahwa hidup hanyalah sebuah potret buram. Anne Frank, gadis Yahudi Belanda itu, mencatat dalam buku hariannya sebagai berikut: “I don’t think of all the misery, but the beauty that still remains...”Ia hidup ketika kaumnya dikejar-kejar dan diperlakukan bak binatang. Frank sekeluarga bahkan mesti hidup di loteng, memakan makanan yang sama berhari-hari, bahkan tak diizinkan menyiram toilet. Justru di masa-masa yang sungguh brutal itulah Frank berhasil meyakinkan dirinya bahwa hidup itu indah. Pada titik ini Anne Frank dan Mioka bertemu, oleh karena pemahaman mereka yang lentur akan hidup dan perjuangan. Keduanya tentu bisa memberi sebuah testimoni melawan dua filsuf agung Prancis tersebut, bahwa seburuk-buruknya hidup, atau dalam keadaan bahkan keindahan sekalipun nyaris mustahil mendapat apresiasi, selalu ada alasan untuk tersenyum dan berbahagia. Bahwa hidup tak melulu soal menanggung beban mahadahsyat di atas punggung, tetapi juga bunga-bunga indah yang tumbuh di tepi jalan.

Sebagai penutup, izinkan saya untuk melampirkan kutipan dari film La Vita รจ Bella ketika Guido, seorang Yahudi, berniat menghibur anaknya. Kala itu keduanya dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi: “The game starts now. You have to score one thousand points. If you do that, you take home a tank with a big gun. Each day we will announce the scores from that loudspeaker. The one who has the fewest points will have to wear a sign that says "Jackass" on his back. There are three ways to lose points. One, if you cry. Two, if you ask to see your mother. Three, if you're hungry and ask for a snack. Forget it!

No comments:

Post a Comment